Bandung, 22 Juni 2026 – Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama bekerja sama dengan Perpustakaan MPR RI sukses menyelenggarakan seminar bertajuk “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca, Gak Sih?” pada Senin (22/6) di Ruang Galunggung, Gedung A Lantai 4 Universitas Widyatama. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, pustakawan, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap perkembangan literasi dan perpustakaan di era digital.
Seminar ini diselenggarakan sebagai ruang diskusi untuk mengkaji fenomena budaya baca Generasi Z yang kerap menjadi perbincangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Melalui kolaborasi antara Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama dan Perpustakaan MPR RI, kegiatan ini diharapkan dapat menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai peran perpustakaan dalam menjawab tantangan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widyatama, Dr. Soni Akhmad Nulhaqim, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar hasil kolaborasi antara Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama dengan Perpustakaan MPR RI. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana yang penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan perpustakaan dan informasi di era digital.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Rektor III Universitas Widyatama, Dr. Ir. Didit Damur Rochman, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. Beliau menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong tumbuhnya budaya baca, berpikir kritis, dan pemanfaatan informasi secara bertanggung jawab.
Selanjutnya, Siti Fauziah, S.E., M.M., selaku Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, menyampaikan sambutan sekaligus apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kolaboratif tersebut. Ia menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan lembaga negara dalam memperkuat budaya literasi masyarakat. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran penting sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat yang mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tamu undangan dari MPR RI, di antaranya Yusniar, S.H. selaku Pustakawan Ahli Madya, Rosando, S.I.K., M.Si., M.H. selaku Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Deputi Bidang Administrasi, serta Budi Sucahyo selaku Reporter Majalah Majelis.
Seminar menghadirkan tiga narasumber yang memberikan perspektif berbeda mengenai budaya baca, literasi informasi, dan transformasi perpustakaan di era digital. Narasumber pertama, Dr. Atalia Praratya, S.I.P., M.I.Kom., Anggota Komisi VIII DPR RI, mengajak peserta untuk melihat kembali posisi perpustakaan di tengah perubahan karakteristik Generasi Z. Menurutnya, perpustakaan perlu terus beradaptasi agar tetap relevan dan dekat dengan kebutuhan generasi muda. Ia menjelaskan bahwa perpustakaan masa kini dapat bertransformasi menjadi knowledge hub, yakni ruang yang tidak hanya menyediakan sumber informasi, tetapi juga menjadi tempat belajar, berdiskusi, berkarya, membangun komunitas, hingga mengembangkan berbagai keterampilan.
Lebih lanjut, Ibu Atalia menyoroti pentingnya perpustakaan hadir pada platform yang digunakan Generasi Z, seperti media sosial dan berbagai kanal digital. Ia juga mengusulkan berbagai inovasi yang dapat diterapkan perpustakaan, mulai dari penyediaan ruang kolaboratif, studio kreatif sederhana, pelatihan keterampilan karier, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga penerapan gamifikasi untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Menurutnya, perpustakaan harus mampu menjadi ruang eksplorasi ide yang menarik dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Narasumber kedua, Ivan Razela Lanin, S.T., M.T.I., Direktur Utama Narabahasa, membahas fenomena minat baca Generasi Z dari sudut pandang yang berbeda. Ia menyampaikan bahwa anggapan Generasi Z tidak suka membaca tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, yang berubah bukanlah minat membaca, melainkan cara masyarakat berinteraksi dengan teks dan informasi. Fenomena seperti BookTok menunjukkan bahwa media digital justru mampu mendorong minat baca dan mempertemukan pembaca dengan berbagai karya literasi.
Dalam pemaparannya, Bapak Ivan juga menunjukkan berbagai data yang mengindikasikan bahwa minat baca Generasi Z masih cukup tinggi. Ia menegaskan bahwa menjadi pembaca bukan hanya dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh identitas dan kebiasaan yang dibangun seseorang. Oleh karena itu, perpustakaan perlu bertransformasi dari sekadar tempat penyimpanan koleksi menjadi ruang yang mampu membantu pengguna menemukan bacaan yang relevan, membangun komunitas, dan menciptakan pengalaman membaca yang bermakna.
Sementara itu, Haria Saputry Wahyuni, S.I.Pus., M.I.Kom., Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama, menyampaikan materi bertajuk “LITERAPHY: Membaca untuk Pulih”. Dalam paparannya, Haria menjelaskan bahwa literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi media untuk menjaga kesehatan mental. Ia mengangkat fenomena information overload yang banyak dialami Generasi Z akibat paparan informasi yang berlebihan di era digital.
Ibu Haria juga memperkenalkan konsep bibliotherapy atau membaca sebagai terapi. Menurutnya, kegiatan membaca secara mendalam (deep reading) dapat membantu meningkatkan fokus, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan mental. Selain itu, ia membagikan berbagai strategi membaca efektif, seperti metode SQ3R, active reading, reading for verification, dan microreading yang dapat membantu masyarakat mengembangkan kemampuan literasi informasi secara lebih kritis dan mendalam.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi diskusi dan tanya jawab berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai minat baca Generasi Z, transformasi perpustakaan di era digital, hingga strategi meningkatkan literasi informasi di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media digital.
Melalui seminar ini, Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama bersama Perpustakaan MPR RI berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya budaya baca dan literasi informasi. Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga negara dalam mendukung pengembangan pengetahuan serta penguatan literasi masyarakat Indonesia.
Seminar ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cendera mata kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam berbagi wawasan dan pengalaman. Diharapkan kolaborasi antara Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama dan Perpustakaan MPR RI dapat terus berlanjut melalui berbagai kegiatan akademik dan literasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.



