Memperluas Cakrawala Akademik: Universitas Widyatama Laksanakan Program Lecture Mobility dan Student Exchange di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia

KUALA LUMPUR, MALAYSIA, 20 OKTOBER 2026 — Dalam upaya memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi lintas negara, Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Widyatama, resmi menyelenggarakan kegiatan Lecture Mobility dan Student Exchange ke Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Rangkaian kegiatan akademik internasional ini berlangsung penuh kehangatan serta kolaborasi yang erat antara akademisi Indonesia dan Malaysia.

Perjalanan dimulai pada tanggal 19 Oktober 2026, ketika delegasi Universitas Widyatama yang diwakili oleh dosen sekaligus Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Haria Saputry Wahyuni, S.I.Pus., M.I.Kom., bersama mahasiswi Erika Nurmayanti, mendarat di Malaysia. Pada hari pertama tersebut, delegasi memanfaatkan waktu secara optimal untuk mengenali serta menjelajahi dinamika kehidupan dan budaya Kota Kuala Lumpur, sembari mempersiapkan fisik serta materi presentasi sebelum agenda resmi di kampus UiTM keesokan harinya.

Agenda utama internasional ini dimulai pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Fakulti Sains Maklumat Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Selangor, Kampus Puncak Perdana. Tepat pukul 08.00 Waktu Malaysia, kedatangan delegasi Universitas Widyatama disambut hangat oleh jajaran pimpinan dan akademisi Fakulti Sains Maklumat Universiti Teknologi MARA (UiTM), di antaranya Dr. Nor Za

ina Zaharah Mohamad Ariff serta Ketua Program Studi (Kaprodi) Fakulti Sains Maklumat, Pn. Kasmarini Baharuddin. Delegasi diajak berkeliling menikmati suasana lingkungan kampus Universiti Teknologi MARA (UiTM) yang aman, asri, dan penuh semangat keakraban antar dosen serta mahasiswa.

Tepat pukul 09.00 Waktu Malaysia, sesi akademik resmi dibuka. Ibu Haria Saputry Wahyuni menyampaikan kuliah umum dalam format Academic Sharing Session di Bilik Seminar Fakulti Sains Maklumat Universiti Teknologi MARA (UiTM) dengan tajuk “Digital Literacy and AI for Academic Work”. Dengan materi dwibahasa Indonesia–Inggris, sesi ini membahas secara mendalam perkembangan dan tantangan literasi digital di era transformasi informasi, khususnya ketika kecerdasan buatan (AI) semakin lekat dengan kegiatan akademik mahasiswa.

Materi dibuka dengan analogi “dua kabut”: kabut asap yang menurunkan jarak pandang, dan kabut informasi berupa hoaks, bias, banjir informasi, serta jawaban AI yang meyakinkan tetapi keliru, yang sama-sama membuat keputusan menjadi samar. Haria memaparkan data bahwa pada 2025 sebanyak 77,63 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet (naik dari 69,21 persen pada 2023 dan 72,78 persen pada 2024, sumber BPS), sementara 99 persen penduduk Malaysia usia 16–24 tahun menggunakan internet (sumber DOSM). Pesan utamanya: akses sudah luas, tetapi mahir memakai gawai tidak sama dengan mampu menilai informasi.

Pokok-pokok materi yang disampaikan meliputi:

  • Landasan literasi digital.Peserta diperkenalkan pada pandangan Paul Gilster (1997), Allan Martin (2006), UNESCO (2018), dan Doug Belshaw (2011) tentang delapan elemen literasi digital, hingga rumusan kerja berupa kemampuan menemukan, mengevaluasi, membuat, dan membagikan informasi melalui teknologi digital secara kritis, etis, dan aman. Kerangka DigComp 3.0 (Komisi Eropa, 2025) dengan 5 area, 21 kompetensi, dan 4 tingkat kemahiran juga dibahas, dengan penekanan pada dua area yang paling dekat dengan mahasiswa: informasi dan data, serta pembuatan konten digital.
  • Mengenali polusi informasi.Haria menjelaskan tiga polutan informasi menurut Wardle dan Derakhshan (2017), yaitu misinformasi, disinformasi, dan malinformasi, serta alasan kita mudah tertipu: bias konfirmasi, algoritma dan ruang gema (echo chamber), serta emosi yang mendorong orang membagikan informasi tanpa mengecek. Sebagai bekal praktis, peserta mempelajari empat teknik verifikasi cepat: memeriksa sumber dan penulis, lateral reading, memeriksa tanggal dan konteks, serta pencarian gambar terbalik dengan Google Lens dan situs pemeriksa fakta.
  • Memahami cara kerja dan risiko AI generatif.AI bekerja dengan memprediksi kata berikutnya sehingga tidak benar-benar “mengetahui”; teks yang lancar belum tentu benar. Risiko yang dibahas mencakup halusinasi (fakta dan referensi yang dikarang), bias data latih, privasi (data pribadi dan naskah belum terbit tidak boleh diunggah), serta ketergantungan yang dapat melemahkan kemampuan menulis dan berpikir kritis. Melalui kerangka AILit dari Komisi Eropa dan OECD, peserta diingatkan bahwa memakai AI tidak sama dengan memahami AI.
  • Etika penggunaan AI untuk tugas kuliah.Penggunaan AI umumnya diperbolehkan apabila transparan, misalnya untuk bertukar ide dan kerangka, menjelaskan konsep sulit, dan memperbaiki tata bahasa. Yang tidak diperbolehkan adalah menyerahkan hasil mentah AI sebagai karya sendiri, memakai referensi yang tidak diverifikasi, dan melanggar aturan dosen atau kampus. Haria menawarkan alur TANYA–CEK–OLAH–AKUI: bertanya dengan prompt yang jelas (konteks, tujuan, batasan), memverifikasi klaim dan referensi, menulis ulang dengan analisis sendiri, dan menyatakan penggunaan AI.
  • Mencari jurnal dengan bantuan AI.Peserta diperkenalkan pada platform Consensus beserta fitur Consensus Meter, filter berdasarkan desain studi, peringkat jurnal, dan bidang ilmu, serta Study Snapshot. Meskipun sumbernya nyata, ringkasan AI tetap harus dicek ke artikel aslinya.

Sesi ditutup dengan penegasan bahwa literasi digital yang kritis, etis, dan aman merupakan fondasi bagi mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi, dan bahwa aturan penggunaan AI berbeda di tiap dosen dan institusi sehingga mahasiswa perlu bertanya terlebih dahulu.

Pada saat yang bersamaan, Erika Nurmayanti mengikuti kegiatan student exchange dengan bergabung secara langsung di kelas perkuliahan Laboratorium Bibliography 2. Di bawah bimbingan dosen pengampu Pn. Nurhidayah Hashim, Erika mempelajari praktik katalogisasi modern bersama mahasiswa tempatan Malaysia serta mahasiswa perantauan internasional. Pembelajaran interaktif ini melahirkan diskusi yang kaya, sekaligus mempererat persahabatan Erika dengan rakan-rakan mahasiswa setempat seperti Suhaila, Misha, Loretha, dan kawan-kawan lainnya.

Setelah merampungkan seluruh agenda perkuliahan dan diskusi akademik, delegasi diajak oleh Dr. Nor Zaina Zaharah Mohamad Ariff untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata budaya serta edukasi terbuka di sekitar Kuala Lumpur dan sekitarnya. Delegasi mengunjungi destinasi pengolahan cokelat khas Malaysia, keindahan arsitektur Masjid Putra (Masjid Pink) di Putrajaya, serta Kompleks Nasyrul Quran—pusat percetakan Al-Qur’an terbesar kedua di dunia yang menjadi kebanggaan Malaysia.

Mengutarakan kesan dan rasa syukurnya atas kesempatan berharga ini, Erika Nurmayanti menyampaikan apresiasi yang mendalam:

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Universitas Widyatama yang telah memberikan dukungan dan akses luar biasa sehingga saya dapat belajar dan berkunjung ke Malaysia. Saya merasa senang dan gembira sekali bisa berjumpa, bertukar pikiran, serta belajar bersama kawan-kawan di Malaysia. Ini merupakan pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri, dan menjadi momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Semoga masyarakat Malaysia senantiasa sehat dan sejahtera.”

Melalui kegiatan Lecture Mobility dan Student Exchange ini, Universitas Widyatama kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lulusan yang berdaya saing global serta memperkokoh hubungan kemitraan strategis internasional di bidang sains informasi dan keperpustakaan.