Infopreneurship Widyatama Bantu Taman Bacaan Masyarakat & Petani Muda

Infopreneurship Widyatama Bantu Taman Bacaan Masyarakat & Petani Muda

BANDUNG – Menjawab dua isu krusial bangsa yakni kemandirian ekonomi komunitas literasi dan krisis regenerasi petani, seorang dosen Universitas Widyatama (UTama) mengembangkan solusi inovatif melalui dua penelitian yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Diah Sri Rejeki, S.Sos.M.I.Kom., dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, memimpin pengembangan model infopreneurship untuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serta platform big data untuk petani muda. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memberdayakan masyarakat secara langsung tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang berdampak nyata.

Infopreneurship Solusi Kemandirian Taman Bacaan

Penelitian pertama berfokus pada pemberdayaan ekonomi sekitar 8.000 TBM di seluruh Indonesia yang selama ini sangat bergantung pada donasi. Melalui konsep infopreneurship atau kewirausahaan berbasis informasi, Diah dan timnya merancang model bisnis agar TBM dapat mandiri secara finansial. Salah satu implementasi sukses dilakukan selama tiga bulan penelitian adalah monetisasi aktivitas literasi budaya, seperti pertunjukan mendongeng Sunda bertajuk “Budak Manglayang”. Hasilnya, antusiasme warga untuk membayar kegiatan literasi yang berkualitas ternyata sangat tinggi.

“Yang ingin saya sampaikan adalah ternyata jika masyarakat diedukasi dan diberi pemahaman tentang bisnis itu sendiri, mereka mampu,” ujar Diah Sri Rejeki saat diwawancarai di Bandung, Kamis (7/8/2025). Ia menjelaskan bahwa model ini lahir dari keprihatinan melihat TBM yang kesulitan menutupi biaya operasional. “Harapannya, tiap tahunnya nanti TBM tidak akan minta sumbangan lagi, tapi mereka sudah bisa berdiri sendiri. Ini sejalan dengan riset induk nasional tentang pariwisata dan ekonomi kreatif,” tegasnya.

Big Data Jawab Krisis Petani Muda

Di sisi lain, penelitian kedua menyasar masalah yang tak kalah genting yaitu minimnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Data statistik menunjukkan mayoritas petani Indonesia kini berusia di atas 35 tahun, memicu kekhawatiran akan masa depan ketahanan pangan nasional. Untuk mengatasi ini, Diah merancang sebuah platform big data pertanian yang berlokasi di Perpustakaan Alam Malabar, Kecamatan Pacet, Majalaya. Platform ini mengintegrasikan berbagai informasi krusial yang dibutuhkan petani muda untuk memulai dan mengelola usaha taninya.

Platform tersebut menyediakan data kesuburan tanah, informasi penanganan hama, prediksi iklim dari BMKG, hingga data harga pasar dari Kadin, termasuk informasi tengkulak di wilayah Majalaya. “Rancabangun big data ini sangat dibutuhkan. Terkadang petani muda itu malas bertanya karena bingung harus mulai dari mana, khawatir pendapatan sedikit, dan bingung menjual hasil panen,” jelas Diah. Inovasi ini disambut dengan rasa syukur oleh komunitas petani muda setempat yang terdiri dari 5-6 orang berusia 22 hingga 28 tahun.

Kolaborasi Lintas Ilmu Wujudkan Kampus Berdampak

Kedua penelitian hibah DIKTI ini, yang berjalan sejak 2021, merupakan wujud nyata dari konsep “Kampus Berdampak”. Dampaknya terasa secara menyeluruh, mulai dari peningkatan nilai akreditasi bagi perguruan tinggi dan prodi, hingga memberikan pengalaman penelitian langsung bagi mahasiswa yang diakui dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Lebih lanjut, Diah menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja kolaboratif. “Penelitian ini sifatnya kolaborasi, jadi saya tidak sendirian. Ada berbagai macam prodi di dalamnya, pertama prodi Informatika, lalu juga ada prodi Perdagangan Internasional, dan sebagainya,” pungkasnya. Inisiatif ini membuktikan bahwa sinergi antar disiplin ilmu di perguruan tinggi mampu melahirkan solusi konkret atas permasalahan kompleks di masyarakat.